Pengaruh Ekonomi Sentra Sate Plered bagi Kemakmuran Warga Lokal

Foto: Kang Yadi (29) sedang membakar sate maranggi di lapaknya, Pasar Plered, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026).
Purwakarta, Bentarnews – Sentra kuliner tradisional di Kabupaten Purwakarta selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta makanan khas daerah. Kawasan ini menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar melalui penjualan produk lokal, di mana kehadiran para pedagang sate memberikan warna tersendiri bagi dinamika pasar tradisional.
Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, suasana di kawasan Kampung Sate Plered tampak ramai oleh lalu lalang pembeli. Tempat ini dikenal luas masyarakat sebagai pasar ikonik yang menyajikan aneka olahan daging. Keberadaannya telah lama menjadi simbol kekuatan ekonomi bagi warga sekitar Kecamatan Plered.
Deretan lapak sederhana berdiri rapi menyajikan hidangan beraroma khas pembakaran arang. Di antara puluhan pedagang, tampak Yadi (29) atau yang akrab disapa Kang Yadi, sedang terampil mengipas bara api pembakaran sate di lapaknya. Pemuda tersebut merupakan salah satu pedagang dari total 47 lapak sate yang berderet di pasar tersebut.
“Di sini ada 47 lapak jualan sate. Semuanya saling mendukung untuk menjaga kelangsungan pusat kuliner di Plered ini,” ujar Kang Yadi saat ditemui di lokasi jualan.
Sejarah Usaha dan Tradisi Generasi ke Generasi
Usaha kuliner yang dijalani Kang Yadi merupakan warisan turun-temurun dari pihak keluarga. Ia mengungkapkan bahwa dirinya merupakan generasi ketiga yang meneruskan roda bisnis makanan tradisional tersebut. Perjalanan bisnis keluarganya tercatat telah dimulai sejak tahun 1960.
“Usaha ini rintisan dari pendahulu saya, diawali oleh Ceu Nyai tahun 1960. Kemudian dilanjutkan oleh Mang Pede, dan sekarang saya sebagai keponakan yang meneruskan jualan ini,” tutur Kang Yadi sambil membalikkan tusukan sate di atas bara.
Keunikan pasar ini terlihat dari papan nama pemilik yang ditulis di atas nyiru atau tampah beras dari anyaman bambu. Ciri khas visual ini mempermudah para pelanggan untuk mengenali lapak langganan mereka. Selain itu, proses pembakaran sate masih dipertahankan secara manual menggunakan hihid (kipas bambu).
Kang Yadi menjelaskan bahwa lapak-lapak di pasar ikonik ini beroperasi nonstop selama 24 jam dengan menerapkan sistem pembagian jadwal giliran kerja (shift). Lonjakan pengunjung biasanya terjadi saat memasuki akhir pekan atau hari libur.
“Kalau hari Sabtu, Ahad, atau hari libur biasanya semakin ramai pengunjung. Dalam sehari saya rata-rata bisa menjual sampai 500 tusuk sate sapi,” ungkapnya.
Struktur Harga dan Pendapatan Usaha
Sate maranggi dari daging sapi segar di lapak Kang Yadi dijual dengan harga Rp2.500 per tusuk. Sebagai pelengkap, tersedia nasi hangat yang dibungkus daun pisang seharga Rp3.000 per bungkus, dengan dua pilihan varian bumbu yaitu bumbu kecap kental dan bumbu kacang.
Bagi Kang Yadi yang merupakan warga asli Plered, jualan sate maranggi adalah mata pencaharian utama guna menopang kebutuhan harian keluarganya. Keuntungan dari jualan sate dimanfaatkan penuh untuk menghidupi seorang istri dan dua orang anaknya yang masih kecil.
“Bagi saya jualan sate ini mata pencaharian utama untuk menghidupi keluarga. Hasil dari sini untuk menghidupi satu istri dan dua anak saya yang masih kecil-kecil,” katanya.
Ketika ditanya mengenai kelangsungan usahanya di tengah perubahan zaman, Kang Yadi merendah. Ia menyebut rezeki yang diperolehnya sebagai bentuk mimilikan (istilah Sunda yang berarti keberkahan rezeki yang tak disangka-sangka).
“Ah ini mah mimilikan saja, Pak,” tutur Kang Yadi sembari tersenyum ramah. Ia menambahkan bahwa meskipun kondisi pasar tak seramai dulu, usaha sate maranggi terbukti bertahan dan mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya.
Sore itu, saya bersama tiga orang rekan berkesempatan menikmati hidangan di lapak milik Kang Yadi. Kelompok kami menghabiskan total 47 tusuk sate sapi dan 8 bungkus nasi daun pisang, dengan total tagihan hanya sebesar Rp147.000. Harga yang terjangkau ini menjadi salah satu alasan utama sentra kuliner Plered selalu diminati pengunjung.
Kontribusi Sentra Kuliner terhadap Kemakmuran Warga
Keberadaan pasar ikonik ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi kemakmuran warga lokal melalui penyerapan tenaga kerja mandiri. Aktivitas perdagangan ini turut menggerakkan rantai pasok lokal, mulai dari peternak sapi, perajin hihid dan nyiru, hingga pedagang bahan baku seperti kecap, cabai, dan daun pisang.
Pengelolaan kawasan secara swadaya dengan sistem shift 24 jam menciptakan iklim usaha yang adil di antara para pedagang. Perputaran uang tunai yang cepat di pasar tradisional ini membuktikan kekuatan ekonomi kerakyatan berbasis potensi daerah.
Generasi muda seperti Kang Yadi menjadi contoh nyata bagaimana ketangguhan UMKM kuliner tradisional mampu menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus melestarikan warisan budaya khas Purwakarta.
Sentra Sate Plered terbukti memberikan pengaruh ekonomi nyata dalam meningkatkan kemakmuran warga lokal melalui penyerapan tenaga kerja, kelangsungan bisnis tiga generasi, serta penguatan rantai pasok usaha mikro masyarakat Purwakarta. (Jujun).
