Wakil Rektor III USB YPKP Jadi Pemateri Acara Halal Bihalal dan Peringatan Hari Kartini KOWAD
Bandung, BentarNews.com – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi sekaligus memperingati semangat perjuangan pahlawan wanita Indonesia Ibu Kartini, Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD) menggelar acara Halal Bihalal 1447 H dan Peringatan Hari Kartini TA. 2026 pada 21 April 2026.
Para tamu undangan disambut hangat oleh Danpusdikkowad Kodiklatad, Kolonel Cku (K) Fitri Anggraeny, S.E., M.M,, yang turut memastikan jalannya kegiatan penuh khidmat dan kebersamaan.
Direktur Umum Kodiklatad, Brigjen TNI Saiful Rizal, S.Sos., hadir langsung untuk memberikan pengarahan strategis mengenai pentingnya sumber daya manusia di lingkungan militer.
Brigjen TNI Saeful menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang tulus kepada Danpusdikkowad, Kolonel CKU (K) Fitri Anggraeny, S.E., M.M., atas peran serta dukungannya. Kemudian kepada Wakil Rektor III Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P. sebagai narasumber.
“Melalui tema Melangkah Menuju Kesetaraan Pemberdayaan Perempuan dan Transformasi Bisnis Lokal, acara ini menjadi wadah kebersamaan untuk mempererat silaturahmi dan menghapus prasangka yang tidak sehat di antara para prajurit wanita,” ungkap Brigjen TNI Saeful.
“Hari ini merupakan kegiatan Halal bihalal dan hari kartini yang sangat luar biasa, ucapan terima kasih yang sebesar besarnya kepada Wakil Rektor III Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P. Karena di sela kesibukannya dapat menyempatkan hadir pada hari yang special baginya. Para prajurit Wanita semua berkumpul di acara ini karena acara ini dapat menghilangkan prasangka yang tidak sehat dan menjadi wadah kebersamaan,” ujar Brigjen TNI Saiful Rizal.
Brigjen TNI Saiful Rizal menekankan prinsip “Anggun dalam Penampilan, Tangguh dalam Kemampuan” yang menegaskan bahwa kelembutan seorang wanita dan ketegasan prajurit merupakan satu kesatuan kekuatan.
Dia menggunakan simbol melati sebagai “pagar bangsa” yang melambangkan integritas serta kekuatan untuk melindungi doktrin dan kedaulatan negara. Di tengah era kontaminasi global, para prajurit diingatkan untuk waspada terhadap virus perilaku menyimpang seperti digital hedonisme, disrupsi susila, post-truth dan radikalisme yang dapat merusak personal branding serta kehormatan.
“Jangan tukar kehormatan dengan kesenangan semu sesaat. Sebagai solusi, ada lima pedoman utama yang mencakup menjaga niat karena Tuhan, menjadikan integritas sebagai pakaian harian atau “kebaya jiwa”, bijak dalam berteknologi, menjadikan senior sebagai role model, serta terus meningkatkan kompetensi teknis untuk penugasan global,” jelas Brigjen TNI Saeful.
Kowad Berperan Ganda
Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P, menegaskan sejarah pembentukan Kowad yang resmi lahir pada Desember 1960 turut menjadi refleksi penting dalam acara ini. Meskipun memiliki kemampuan khas untuk berperan ganda sebagai ibu rumah tangga dan prajurit dengan ketahanan tinggi, pengembangan karir Kowad diakui masih menghadapi tantangan seperti manajemen SDM yang belum optimal.
Lanjut Nurhaeni, oleh karena itu sosok Kartini moderen dalam tubuh Kowad diharapkan mampu tumbuh sebagai pribadi yang cerdas secara spiritual, intelektual dan emosional, serta tetap memegang teguh etika kesantunan sesuai prosedur keprajuritan. “Melalui kegiatan ini, Kodiklatad terus berkomitmen menjadi dapur pembentukan karakter bagi prajurit wanita agar tetap bersih secara moral dan tumbuh dalam kebermanfaatan bagi bangsa,” tuturnya.
Sisi pemberdayaan perempuan diperkuat oleh pemaparan materi dari Dr. Nurhaeni Sikki yang membahas kesetaraan gender sebagai kemitraan sejajar antara laki-laki dan perempuan dalam mengaktualisasikan diri sesuai kodrat masing-masing.
Penguatan Mental dan Emosi
Nurhaeni menyoroti pentingnya penguatan mental dan emosi sebagai kunci mencapai kesetaraan berkelanjutan di era digital. “Contoh nyata transformasi bisnis lokal juga dipaparkan melalui peran perempuan sebagai penggerak utama dalam kelompok wanita tani yang mengolah Mangga Gedong Gincu menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Dengan sentuhan kreatif dan ketelitian dalam kemasan, perempuan mampu mengubah buah yang semula tidak berharga menjadi produk gaya hidup yang mandiri secara finansial,” paparnya.
“Dua puluh tahun bukanlah waktu yang mudah, untuk melangkah keluar dari lingkungan militer bukanlah sebuah upaya untuk mencari kebebasan dari rutinitas yang ketat, melainkan sebuah transformasi pengabdian yang lebih luas,” ungkap Nurhaeni.
Saat kalimat perpisahan terucap, bukan rasa lega karena lepas dari tugas yang ia rasakan, melainkan sebuah harapan besar agar gelar S3 yang telah diraihnya dapat menjadi lentera yang bermanfaat bagi khalayak ramai di lingkungan yang baru.
“Ilmu dan pengalaman yang ditempa selama menjadi Kowad tidak akan pernah luntur hanya karena berganti di lingkungan sipil. Pendidikan di Kowad telah membentuk fondasi karakter yang begitu kokoh, sehingga untuk berpindah haluan menjadi seorang dosen di lingkungan sipil, nilai-nilai tersebut tetap melekat erat. Dunia akademis hanyalah sebuah panggung baru, namun instrumen yang digunakan tetaplah sama, kedisiplinan yang tinggi, tanggung jawab yang mutlak dan kerja keras yang tanpa batas,” tegas Nurhaeni. (ay)
