Sun, 22 Sep 2019

BentarNews.comInfo terakhir seputar Jawa Barat

Breaking News

Unpad Dengan Predikat Kesundaan Harus Jadi Universitas Internasional

Bandung-BentarNews.com: Menjadi Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) yang secara geografis berada pada latar Sunda, tentu tidak boleh keluar dari akar Budaya Kesundaan. Artinya, seorang pemimpin juga harus memiliki visi untuk menjaga nilai-nilai dan tradisi Kesundaan, sebagaimana telah diwariskan oleh para “karuhun”, yang dalam sejarahnya para karuhun mengharapkan agar siapa pun harus bisa menebar manfaat bagi masyarakat Sunda. Inilah sesungguhnya tujuan akhir ketika seseorang dipercaya menjadi Rektor Unpad, bukan saja dalam konteks mikro ingin mengubah wajah institusi Unpad menjadi lebih baik dengan kemampuan yang dimiliki, tetapi dalam rangka menjaga akar sejarah dan kebudayaan agar tetap kokoh dan bermanfaat bagi warga Sunda.

 

Demikian diungkapkan Calon Rektor Unpad Toni Toharudin salah seorang Dosen Statistika FMIPA Unpad yang juga selaku Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, di Alam Santosa, Pasirimpun, Cimenyan, Bandung, Selasa (03/09/2019). “Seharusnya Prodi Sastra Sunda menjadikan ciri khas Unpad untuk meningkatkan kuliah internasional sehingga lebih cepat mendunia dibandingkan prodi yang lain,” jelas Toni.

 

Lanjut Toni, rektor merupakan figur yang menjadi kunci keberhasilan perguruan tinggi. Jabatan rektor adalah sebuah amanah, yang harus dipegang teguh dan penuh tanggungjawab. “Ia bukan saja sebagai manajer, tetapi juga seorang leader yang harus berperan sebagai driving foce untuk kemajuan kampus. Sehingga, keberadaannya dituntut untuk mampu membuat terobosan yang dapat memberikan dampak (outcome) nyata bagi pembangunan institusi. Kepemimpinan merupakan faktor yang paling penting dalam menunjang tercapainya tujuan Institusi. Jika seorang rektor mampu menggerakkan, membimbing dan mengarahkan seluruh civitas akademika secara tepat, maka segala kegiatan yang baik dalam pelaksanaan proses pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, maupun pelayanan mahasiswa akan bisa terlaksana secara efektif. Inilah inti dari kepemimpinan yang efektif,” ungkap Toni.

 

“Seandainya amanah untuk menjadi Rektor Unpad datang pada diri saya, saya akan melakukan berbagai agenda strategis untuk membesarkan Institusi Unpad melalui berbagai terobosan yakni pertama, menciptakan manajemen berbasis komunitas (community based management),” tutur Toni,

 

Lanjutnya, manajemen berbasis komunitas memungkinkan seluruh civitas akademika memiliki tanggung jawab yang sama untuk memajukan institusi. Strategi yang dapat dilakukan diantaranya melalui upaya berperan sebagai solidarity-maker. “Pemimpin adalah tempat bersatunya berbagai kepentingan dan pandangan sehingga keberadaannya dapat menyatukan dan memberikan arah dan tujuan lembaga secara jelas. Pemimpin harus mampu menggerakan seluruh civitas akademik untuk mendukung upaya pengembangan institusi,” terang Toni.

 

“Seandainya amanah untuk menjadi Rektor Unpad datang pada diri saya, saya akan melakukan berbagai agenda strategis untuk membesarkan Institusi Unpad melalui berbagai terobosan yakni pertama, menciptakan manajemen berbasis komunitas (community based management),” tutur Toni,

 

Lanjutnya, manajemen berbasis komunitas memungkinkan seluruh civitas akademika memiliki tanggung jawab yang sama untuk memajukan institusi. Strategi yang dapat dilakukan diantaranya melalui upaya berperan sebagai solidarity-maker. Pemimpin adalah tempat bersatunya berbagai kepentingan dan pandangan sehingga keberadaannya dapat menyatukan dan memberikan arah dan tujuan lembaga secara jelas. Pemimpin harus mampu menggerakan seluruh civitas akademik untuk mendukung upaya pengembangan institusi. Di sini, seorang pemimpin harus menjalin komunikasi efektif, membuat tim merasa aman, mampu menciptakan ruang partisipasi bagi semua pihak  (engagement) sehingga tercipta arah gerak yang sama bagi komunitas.

 

Selain itu, pemimpin juga menawarkan visi kebaruan yang diejawentahkan melalui cetak biru (blue-print) pembangunan institusi yang jelas. Visi harus dipahami, dimengerti dan diimani oleh semua pihak. Dengan demikian, seluruh civitas akademik harus memiliki tanggungjawab yang sama untuk menjadikan visi institusi sebagai pijakan dalam pelaksanaan program. Kemudian adanya keterbukaan terhadap kritik,.dimana kritik merupakan amunisi sebagai feedback menuju perbaikan. Dengan demikian, visi dan misi institusi senantiasa dapat terkontrol dengan baik ke arah pencapaian target-target yang telah ditetapkan.

 

Kedua, menerapkan Manajemen Berbasis Teknologi. Perguruan Tinggi dituntut untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika global terutama terkait era disrupsi (revolusi industri 4.0). Dalam konteks ini, pemimpin harus dapat membuat keputusan secara cepat dan akurat melalui pemanfaatan data dan informasi sebagai basis dalam pengambilan kebijakan. Penerapan teknologi juga wajib untuk menunjang proses pembelajaran, layanan kampus dan sejenisnya.

 

Ketiga, menciptakan birokrasi yang profesional dan transparan yang mendorong pada upaya peningkatan Kesejahteraan dosen dan pegawai. “Di sini perlu reformasi birokrasi untuk menunjang efektifitas manajemen organisasi. Strategi yang dapat dilakukan melalui: tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel, reformulasi kebijakan renumerasi, dan peningkatan kesejahteraan pegawai,”jelas Toni.

 

Selanjutnya, Keempat, memperkuat Publikasi dan Inovasi yang membawa Institusi UNPAD menjadi Perguruan Tinggi dengan daya saing tinggi (global) melalui peningkatan jumlah publikasi dan inovasi di bidang pengetahuan dan teknologi. “Ke depan, UNPAD harus bisa menjadi Pusat Pengembangan Inovasi Keilmuan dan Teknologi sehingga mampu melahirkan generasi unggul. Adapun langkah yang dapat dilakukan diantaranya meliputi pembangunan jejaring dengan peneliti (terbaik) berkelas dunia (baik nasional maupun internasional) untuk melakukan akselerasi publikasi Internasional dan membentuk International Advisory Board pada setiap level untuk akselerasi riset. Disamping itu UNPAD harus bisa mewujudkan hasil riset multidisiplin yang khas dan bisa mendunia,” ujar Toni.

Toni menjelaskan, Program Kelima yakni mengupayakan peningkatan dan percepatan program doktor diantaranya melalui penerapan kebijakan pemberian beasiswa khususnya bagi mahasiswa yang menempuh program doktoral (S3). Disamping itu membebaskan biaya kuliah pada mahasiswa S3 dengan mempersyaratkan harus bisa publikasi pada jurnal bereputasi minimal 3 selama pendidikan.

 

Keenam, membentuk Pusat Asesmen dan Sertifikasi. Program pemerintah untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia salah satunya dengan membuat asesmen, baik individu maupun kelompok. “Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang meningkat serta jumlah angkatan kerja yang juga meningkat, dibutuhkan tenaga profesional yang dapat menunjang pekerjaan.Pendirian Pusat Asesmen dan Sertifikasi akan membuat UNPAD berada selangkah lebih maju dibanding perguruan tinggi lain di Indonesia. Pusat Asesmen dan Sertifikasi akan bekerja berdampingan dengan Pusat Pengembangan Karir (Career Development Center) yang dikelola secara terpisah, sehingga akan membuat UNPAD juga menjadi lembaga pendidikan yang memenuhi solusi terintgrasi dalam mencapai SDG,” jelas Toni. (Asep Y)

Ket.Foto : Toni Toharudin, Dosen Statistika FMIPA Unpad juga selaku Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah. (Foto oleh Asep Yulianto)

2019-09-03 11:22:06