Tue, 22 May 2018

BentarNews.comInfo terakhir seputar Jawa Barat

Breaking News

Program Penanggulangan HIV DAN AIDS di Kabupaten/Kota

(Bandung-BentarNews.com): Program KEI-BCC-KPP, pengertian Behavior Change Communication (BCC) adalah perubahan perilaku (KPP) merupakan kegiatan penjangkauan/pendampingan untuk memberikan informasi dan pendidikan keterampilan tentang pencegahan HIV/AID. Serta promosi penerapan pola hidup sehat (biasanya juga disebut kegiatan outreach) bagi polulasi berisiko, yang dilakukan secara teratur dan dalam jangka waktu tertentu.

Adapun maksud dan tujuannya, antara lain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan populasi berisiko untuk merubah dan mempertahankan perilaku aman agar terhindar dari penularan HIV dan IMS (penyakit infeksi menular seksual) serta menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif, proaktif dalam melaksanakan penaggulangan HIV/AiDS.

Kemudian target sasarannya para pekerja seks wanita langsung, mereka yang berada di lokasi dan ada mucikari maupun mereka yang berada di jalanan. Serta pekerja seks wanita tidak langsung, mereka adalah yang bekerja di tempat hiburan dan panti pijat namun juga melakukan transaksi seksual. Kemudian pekerja seks pria,l ajimnya disebut kucing,adalah mereka yang menjual jasa seks bagi sesama pria maupun wanita. Lalu gay atau msm (men sek with men) adalah mereka yang memilki orientasi seks pada sesama pria dan punya prilaku berganti-ganti pasangan. Ada juga waria pekerja seks, mereka yang mejeng di jalan, bahkan ada pula yang panggilan untuk transaksi seks komersial dan pelanggan dari pekerja seks baik wanita maupun pria.

Program pemakaian kondom 100% selanjutnya disingkat PPK 100% adalah kegiatan yang memberikan penekanan pada pendidikan dan promosi pemakaian kondom sebagai upaya menekan meluasnya penularan infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV AiDS. Terutama di kalangan populasi yang memiliki banyak pasangan seksual. Untuk itu PPK 100% akan dilaksanakan dipusat-pusat konsentrasi transaksi seksual dengan banyak kalangan.

Maksud dan tujuannya, antara lain mendekatkan akses kondom pada setiap tempat yang menjadi tempat adanya perilaku berganti-ganti banyak pasangan, meningkatkan pengetahuan para pekerja seks komersial untuk menawarkan pemakaian kondom kepada para pelanggannya dan keterampilan cara pemakain kondom secara benar. Lalu meningkatkan pemakaian kondom secara konsisten pada setiap seksual berisiko,dan menurunkan prevanlensi ims pada pekerja seks dan pelanggannya. Adapun target sasaran,antara lain pekerja seks wanita langsung, pekerja seks wanita tidak langsung, pekerja seks pria, gay atau msm, waria pekerja seks dan pelanggan dari pekerja seks wanita atau pria.

Program IMS-Infeksi Menular Seksual,l ayanan kesehatan IMS merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengobatan rutin masalah IMS bagi pekerja seks perempuan, pria dan waria. Program ini dilaksanakan di puskesmas atau puskesmas pembantu atau klinik swasta yang sudah ada di wilayah yang terdekat dengan konsentrasi sebaran populasi berisiko. Layanan kesehatan IMS ini memiliki fungsi control terhadap penularan IMS agar penularan IMS pada sub populasi berisiko dapat dipersempit.

Layanan klinik IMS mencakupi, melaksanakan kegiatan pencegahan seperti promosi kondom dan seks aman, memberikan layanan pemeriksaan dan pengebotan bagi mereka yang telah tertular IMS. Kemudian melaksanakan kegiatan penapisan untuk IMS asymptomatic bagi semua populasi berisiko secara rutin sedikitnya sekali setiap tiga bulan, lalu memberikan layanan konseling, pemeriksaan,dan pengobatan bagi pasangan tetap klien PS melalui sistem partner notification. Dan menjalankan sistem monitoring dan survailans, serta memberikan layanan KIE tentang mitos penggunaan obat-obat bebas untuk mencegah atau mengobati IMS.

Maksud dan tujuan daripada layanan kesehatan IMS, yaitu untuk menjalankan fungsi kontrol dan menekan penyebaran IMS pada PSK perempuan, pria, waria, pelanggan tetap, kemudian target sasaran diantaranya pekerja seks perempuan langsung,pekerja seks perempuan tak langsung, pekerja seks pria, waria pekerja seks, dan pelanggan dari pekerja seks perempuan, pria dan waria.

Program Harm Reduction, program pencegahan dan penanggulangann HIV/AIDS bagi IDUs dilaksanakan menjadi pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntik merupakan pendekatan pragramatis kesehatan guna merespon ledakan infeksi HIV/AIDs secara khusus di kalangan IDUs. Dampak buruk pemakaian Narkoba yang akan ditekan termasuk, penularan HIV dan Hepatitis (B DAN C), infeksi akibat bakteri (karena peralatan atau Narkoba yang terkontaminasi). Misalnya abses,overdosis (OD) yang sering berakhir dengan kematian, kemudian ketergantungan obat dan kimia,l alu kejahatan maupun gangguan social dan gangguan fisik maupun mental.

Maksud dan tujuan program pencegahan dan penanganan HIV/AIDS bagi IDus dimaksudkan untuk membantu sub populasi IDus dan pasangan seksual tetapnya yang bukan IDUs agar terhindar dari penularan HIV sekaligus memberikan proteksi bagi populasi umum melalui jaringan antara yakni PSK perempuan, pria dan waria. Tujuannya yaitu, meredam laju epidemic HIV dari jalur penularan pemakaian Napza suntik dan penyeberangannya (cross-over) kejalur seksual. Adapun Target sasarannya antara lain pengguna narkoba suntik (IDUs) dan pasangan seksual tetap dari IDUs yang bukan IDUs.

Program VCT (Voluntary Counseling & Testing), layanan ini merupakan program pencegahan sekaligus jembatan untuk mengakses layanan manajemen kasus (MK) dan CST (perawatan,dukungan,dan pengobatan bagi ODHA), layanan VCT harus mencakup pre-test konseling, testing HIV, dan post-test konseling, kegiatan tes dan hasil tes pasien harus dijalankan atas dasar prinsip kerahasiahan.

Prinsip dasar layanan VTC diantaranya, klien datang secara sukarela,d iberikan layanan pretest konseling,dan secara sukarela bersedia ditest HIV (atas kehendak sendiri tanpa paksaan atau manipulasi) ditandai dengan inform concent yang ditandatangani oleh pasien. Kemudian percakapan antara klien dan konselor VTC serta hasil test HIV bersipat rahasia, tidak boleh dibocorkan dalam bentuk dan cara apapun kepada pihak ketiga,dan berorientasi kepada klien serta menerapkan prinsip GIPA (greater involvement people living with HIV/AIDS).

Maksud dan tujuan, program layanan ini untuk membantu masyarakat terutama populasi berisiko dan anggota keluarganya untuk mengetahui status kesehatan yang berkaitan dengan HIV dimana hasilnya dapat digunakan sebagai bahan motivasi upaya pencegahan penularan dan mempercepat mendapatkan pertolongan kesehatan sesuai kebutuhan.Tujuannya antara lain untuk meningkatkan kesadaran populasi berisiko tentang status kesehatan HIV-nya. Kemudian meningkatkan kesadaran populasi berisiko untuk membuat keputusan dan mempertahankan perubahan perilaku yang aman terhadap penularan HIV, lalu meningkatkan jumlah populasi berisiko dan anggota keluarganya dalam upaya mencegah perluasan penularan HIV,dan membantu mereka yang identifikasi terinfeksi untuk segera mendapat pertolongan kesehatan sesuai kebutuhan. Sedangkan target sasaran antara lain, pengguna Napsa suntik (IDUs), pasangan seks tetap dari IDUs yang bukan IDUs, pekerja seks wanita langsung,pekerja seks wanita tidak langsung,pekerja seks pria, gay atau MSM, waria pekerja seks, pelanggan dari pekerja seks komersial perempuan dan pria, serta pasangan tetap dari pelanggan PSK.

PROGRAM CST (CARE, SUPPORT & TREATMENT), program perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA (CST-care, support and treatment for ODHA ) adalah bagian hilir dari program penanggulangan HIV/AIDS secara komprehensif. Layanan CST seharusnya tidak dilakukan bila tanpa layanan VCT,bila ODha yang datang kefasilitas kesehatan sudah dengan AIDS, layanan VCT tetap harus diberikan. Maksud dan tujuan daripada program ini adalah agar hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas sosial dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya,dengan kata lain tanpa ada stigma dan diskriminasi,adapun target sasaran diantaranya semua populasi berisiko namun memberikan prioritas semua sub populasi yang prevalensi HIV lebih tinggi misalnya IDUs dan pasangan seks tetap, IDUs yang bukan IDUS, waria dan pasangan seksual tetapnya.

*(Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung)

2008-09-05 15:05:03