Tue, 22 May 2018

BentarNews.comInfo terakhir seputar Jawa Barat

Breaking News

Peringatan 62 Tahun Peristiwa BLA untuk Bangkitkan Integritas Bangsa

Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) 62 tahun lalu, 24 Maret 1946, adalah kenyataan sejarah peristiwa perlawanan sekaligus pengorbanan pejuang dan rakyat Bandung, menentang dominasi asing kembali menjajah bumi Indonesia. Peristiwa Bandung Lautan Api adalah wujud kesetiaan, kepatuhan, loyalitas kepada pimpinan sekaligus komitmen rakyat Bandung dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI. Namun mundurnya tentara dan rakyat pejuang Bandung dari medan perang sambil melakukan taktik bumi hangus, ceritanya akan lain, jika saja perintah mundur dari pimpinan tertinggi di Jakarta adalah komando untuk menyerang. Yang pasti peperangan sengitlah yang terjadi, karena pejuang dan tentara saat itu, telah lama siap menyerang di posnya masing-masing.

Pembumihangusan Bandung dengan membakar rumah, gedung dan bangunan instalasi penting serta mundur dari medan perang, bukanlah sikap dan tindakan pengecut. Ini adalah sikap kepatuhan, kesetiaan kepada komando pemerintah pusat sekaligus cerminan pengorbanan rakyat karena tidak rela Kota Bandung kembali dikuasai pasukan asing yang akan kembali menjajah NKRI.

Demikian diungkapkan Wali Kota Bandung, H Dada Rosada SH, M.Si dalam acara peringatan 62 Tahun Peristiwa BLA, serta pencanangan pembangunan Sarana Olah Raga (SOR) dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Gedebage. Selain itu juga Deklarasi Integritas Bangsa, di Plaza Monumen BLA Tegallega, Jalan Otista Bandung, Senin (24/03). Hadir pula Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI, Kusmayanto Kadiman, Anggota DPR RI, Heppy Bone Zulkarnaen, Gubernur Jawa Barat, H Danny Setiawan, jajaran Muspida Plus dan pejabat publik Kota Bandung, pelaku sejarah BLA, tokoh masyarakat dan sesepuh Bandung, pelajar, Ormas/OKP, PKK, Dharma Wanita Persatuan dan KNPI.

Acara ini ditandai penekanan tombol pencanangan pembangunan SOR dan PLTSa Gedebage, pemukulan Gong dan Deklarasi Integritas Bangsa oleh Wali Kota Bandung bersama 31 komponen rakyat yang ada di Kota Bandung. Diantaranya unsur TNI, Polri, tokoh dan sesepuh masyarakat, ormas keagamaan, komunitas Tionghoa, Asosiasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Forum RW, PKK, Dharma Wanita, organisasi profesi Wartawan (PWI), kelompok Tiga Pilar Pakta Integritas pemberantasan korupsi, serta pemberian dana kadeudeuh Rp 400 juta untuk pelaku sejarah peristiwa BLA.

Sikap rela berkorban ini, dikatakan wali kota, perlu terus dipelihara dan diaktualisasikan, apalagi Kota Bandung saat ini sedang giat-giatnya membangun, termasuk keinginan memiliki SOR bertaraf internasional dan PLTSa di Gedebage. Mewujudkannya, sangatlah dibutuhkan kerjasama serasi antar pihak, semangat kejuangan dan sikap rela berkoraban semua elemen masyarakat. Sehingga diharapkan, proses perubahan kearah kemajuan ini, terjadi bisa lebih menggambarkan hasil kerja kolektif dan maksimal. ?Peristiwa BLA ini, selain membangkitkan nilai-nilai kejuangan dan semangat rela berkorban, juga menjadi sumber gagasan dan inspirasi, menguatkan komitmen kami, untuk mencanangkan pembangunan PLTSa dan SOR Gedebage di Kota Bandung,? ujar Dada.

Pemkot Bandung akan konsisten, berupaya memberikan jaminan keamanan dan keselamatan warga secara maksimal, karena pada dasarnya apa yang dikerjakan, adalah untuk kemakmuran rakyat secara keseluruhan. ?Bagaimana mungkin rakyat akan sejahtera, jika mereka masih terancam keamanan dan keselamatannya. Kalaupun masih ada kekhawatiran sebagian kelompok masyarakat, itu adalah wajar. Pemerintah Kota siap membuka ruang dialog sehingga dicapai pemahaman dan kesepakatan secara kolektif,? jelas Dada.

Berkenaan SOR berstandar internasional yang segera dibangun di kawasan Gedebage, hal itu merupakan bagian penting dari pengembangan kualitas SDM Kota Bandung di bidang olah raga. Apalagi Kota Bandung sebagai kota besar dan ibu kota propinsi Jawa Barat, sejauh ini belum memiliki stadion yang representative. Keberadaan SOR ini, akan menjadi sarana untuk melakukan pembinaan atlet agar lebih berprestasi, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional.

Terkait pencanangan bangkit bersatu integritas bangsa, ditandai pemukulan ?Gong Integritas?, dikatakannya, sudah saatnya rakyat dan bangsa Indonesia bangkit dan menumbuh kembangkan karakter nasional yang dilandasi kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kerja keras dan semangat kebersamaan. Sehingga bangsa ini tetap tegak kokoh, terjaga dari pengaruh yang membangkitkan potensi disintegrasi bangsa.

Sementara itu, Menristek, Kusmayanto Kadiman menyatakan, dirinya sangat terkesan dengan upaya Wali Kota Bandung, H Dada Rosada, membangkitkan semangat kejuangan, kerja keras dan kebersamaan warganya. Termasuk keinginan mengatasi persoalan sampah kotanya dengan membangun PLTSa di Gedebage. ?Bandung saat ini sudah dicabut dari daftar kota yang kotor di Indonesia. Saya sebagai warga Bandung, nangis membaca pemberitahuan hasil evaluasi Bandung sampai masuk di daftar yang tidak terpuji. Mari sama-sama kontak batin kita semua, PLTSa itu bukan Dada Rosada punya, tapi punya warga Bandung, dan ini adalah upaya kita, mari kita sama-sama berjuang,? ujarnya.

Sedangkan Gubernur Jawa Barat, Drs H Danny Setiawan M.Si menilai, Wali Kota Bandung beserta jajarannya, dalam masa kepemimpinannya telah memiliki dan menjalankan sejumlah program unggulan dalam menyelesaikan berbagai perssoalan secara komprensif. Termasuk mengatasi sampah kota dengan membangun PLTSa di Gedebage, dengan pendekatan yang inovatif dan visioner. ?Khusus SOR Gedebage, tidak saja bermanfaat untuk kepentingan Kota Bandung, tapi juga Jawa Barat dan Nasional. Sehingga Pemprop Jabar merasa berkepentingan dan perlu memberikan dukungan financial, serta mengupayakan dukungan Pemerintah Pusat maupun sektor swasta,? jelasnya.

2008-03-27 22:58:30