Tue, 16 Oct 2018

BentarNews.comInfo terakhir seputar Jawa Barat

Breaking News

Penghargaan Bagi Tenaga Keperawatan Masih Rendah

(Bandung-BentarNews.com): Profesi keperawatan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan, nampaknya belum memberikan kepastian dan jaminan, setiap lulusan institusi pendidikan keparawatan mudah mendapat pekerjaan dan penghargaan yang layak. Mestinya, ilmu terapan yang dimiliki tenaga perawat, yang jarang dimiliki banyak orang ini, tidak saja mampu bersaing di pangsa pasar tenaga kerja, tapi juga mendapat penghargaan lebih.

Realita yang terjadi, tidak sedikit tenaga terampil keparawatan mendapat imbalan gaji dibawah upah minimum, bahkan menjadi penganggur. ?Memang dengan berdiri banyaknya sekolah-sekolah keperawatan, ini akan berdampak pada sempitnya lapangan kerja. Namun yang memprihatinkan, masih ada rumah sakit swasta yang menggaji perbulannya limapuluhribu rupiah,? ungkap Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Bandung, Wawan Hernawan S.Pk dalam acara silaturahmi jajarannya dengan Wali Kota Bandung, H Dada Rosada SH, Msi di Bale Kambang, Jalan Bungur Bandung, pekan lalu.

Lanjut Wawan, lulusan tenaga keperawatan dari berbagai elemen pendidikan Stikes, Poltekkes, D3 Kerewatan, menghasilkan 3.000 lulusan, sementara tenaga perawat yang sudah ada, tercatat 4.000 orang, sementara daya serap dari institusi pengguna sanagat sedikit.Salah satu solusinya, dikembangkan home care atau praktek pelayanan keperawatan kepada masyarakat secara mandiri di rumah. Upaya lainnya, mencoba masuk pasar tenaga kerja perawat di luar negeri. Selain banyak diminati banayak negara, juga karena penghargaan yang lebih dibanding di tanah air. Namun persoalannya, terkendala bahasa negara pengguna dan syarat pengalaman kerja yang harus dipenuhi.

Untuk mengangkat keberadaan insan keperawatan ini, dikatakan Wawan, PPNI melakukan pembenahan, merencanakan kedepan, tenaga keperwatan ini terakreditasi. Rumah sakit nantinya wajib menggaji sesuai potensi dan srtifikasi yang dimilikinya. ?Contohnya, perawat bedah atau perawat penyakit jiwa, pihak yayayasan atau rumah sakit harus menghargai sertifikasi ini, dan wajib menggaji sesuai potensi dan sertifikasi yang dimiliki pearawat. Kita akan membuat aturan, minimal sama dengan upah minimum regional atau UMR yang berlaku. Nantinya gaji terkecil perawat dengan sertifikasi ini digaji satusetengahjuta rupiah,? ungkap Wawan seraya menyebutkan, annggota PPNI Kota Bandung, dari jumlah yang tercatat 4.000 orang, setengahnya masih digaji dibawah UMR.

Menanggapi harapan yang disampaikan sejumlah anggota PPNI, terkait usulan agar Pemkot Bandung memfasilitasi, lahan tempat praktek atau magang bagi lulusan tenaga perawat, juga usulan beasiswa pendidikan bagi peningkatan ketrampilan berbahasa, wali kota mengemukakan, perlunya komunikasi dan pembicaraan lebih lanjut.

Menurutnya bantuan bisa saja diberikan kepada PPNI Kota Bandung, seperti yang selama ini ini diberikan kepada banyak ormas-ormas yang ada di Kota Bandung. Sepanjang itu untuk kepentingan umum, jelas status hukum dan kedudukan organisasinya, juga program-programmya, pemkot siap bantu. ?Dengan keterampilan spesifik yang dimiliki, mestinya tidak terjadi seorang tenaga perawat menjadi penganggur. Namun untuk meningkatkan daya saing, persoalan peningkatan kemampuan bahasa dan lahan magang untuk memberikan pengalaman kerja, kita bicarakan lebih lanjut,? ujarnya.

Upaya mengatasi masih besarnya pengangguran di Kota Bandung, wali kota mengatakan, juga bergantung pada para pengusaha pelaku bisnis. Dirinya sangat bersyukur, jika warganya terserap dan bekerja di berbagai intitusi baik pemerintah maupun swasta, namun juga sangat prihatin, karena baru terserap sedikit saja, banyak juga pengusaha yang melakukan PHK, sehingga persoalan tenaga kerja penganggur, tidak banyak beranjak dan tidak kunjung selesai.

2008-10-28 21:58:14