Tue, 22 May 2018

BentarNews.comInfo terakhir seputar Jawa Barat

Breaking News

BPM Jabar terjunkan Seratus Lebih Pendamping untuk Awasi Program Raksa Desa

(Bandung),- Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Provinsi Jabar memberikan pelatihan pada 111 tenaga pendamping program raksa desa, yang akan diterjunkan di 556 desa di Jabar. Tenaga pendamping ini merupakan kunci bergulirnya program raksa desa, karena mereka bertugas sebagai pengawas, pembina, dan pengawal program tersebut. Sebanyak 111 tenaga pendamping akan diterjunkan ke 556 desa. Setiap tenaga pendamping akan mengawal proposal yang diajukan dari lima desa.

Hal tersebut diungkapkan Kepala BPM Jabar, Pery Suparman, usai membuka pelatihan program raksa desa bagi tenaga pendamping Provinsi Jabar 2008 di Hotel Lingga, Jl. Soekarno-Hatta Bandung, Kamis (3/4). Menurutnya, dari 5.239 desa, tinggal 556 desa yang belum mendapatkan kucuran dana raksa desa. Tahun ini, desa-desa yang belum mendapat bantuan akan mendapatkannya, yaitu sebesar Rp 100 juta/desa. "Untuk mengawal dana raksa desa tersebut, maka kabupaten/kota menunjuk tenaga pendamping dan sebelum diterjunkan, mereka diberi pelatihan terlebih dulu," jelasnya.

Melalui tenaga pendamping, di tiap desa akan dibentuk kelompok-kelompok. Dana raksa desa ini akan digunakan dalam kelompok tersebut dengan pengawasan tenaga pendamping. Dan kunci raksa desa itu ada tenaga pendamping, yang bertugas sebagai pengawas, pembina, dan juga pengawal. Selama ini, tugas mereka bagus dan selalu melaporkan hasilnya pada kami," ujar Pery.

"Tenaga pendamping yang betugas satu tahun ini mendapat honor sebesar Rp 750.000/orang. Ada kelemahan dari masa tugas tenaga pendamping yang hanya 1 tahun. Banyak kegiatan setelah satu tahun macet, karena tidak ada lagi pengawasannya. Untuk mengatasinya, BPM akan mengajukan masa kerja tenaga pendamping ini diperpanjang, termasuk anggarannya. Saya ingin tenaga pendamping ini diperpanjang, sehingga kegiatan terus bergulir. Idealnya para pendamping mendapatkan honor di atas UMK, karena jarak antardesa relatif jauh," tutur Pery.

Lanjut Pery, pada umumnya pelaksanaan program raksa desa berhasil. Dana ini 40% diperuntukkan bagi infrastruktur dan 60% untuk perekonomian. "Berdasarkan penelitian tim independen Unpad, program raksa desa ini umumnya berhasil dan ini sangat bermanfaat. Program raksa desa berakhir pada 2008, tapi saya harap pada 2009 dan selanjutnya masih ada, namun dengan desain yang berbeda. Selain itu, ada juga penggunaan dana raksa desa yang tidak sesuai peruntukannya. Seperti yang terjadi di Desa Jasinga, Kab. Bogor pada 2005 dan di Kab. Kuningan pada 2007," katanya.

2008-04-04 18:18:24